payungKisah Nyata ” Si kecil menggapai langit ”

Belajar kepada si kecil.

Setiap kejadian..hampir pasti selalu ada hikmah yg menyertainya. Hanya saja kita yang tidak sadar dengan hikmah apa saja yg ada di balik tiap kejadian yg kita alami.berikut ada satu kejadian yang sangat berharga yang pernah saya alami yang kita bisa ambil hikmahnya. Kejadian itu sudah lama sekitar tahun 2007.

Saya tinggal di Perumahan puriagung 3, yang terletak di kel.mangsang Sei Beduk Batam.Perumahan ini baru dibangun, maka waktu itu kami adalah para penghuni pertama dan baru diperumahan tersebut. Karena perumahan baru maka fasilitasnya juga belum memadai termasuk sarana dan prasarana ibadah seperti masjid belum berdiri, apalagi pendidikan anak seperti TPA belum ada diperumahan ini waktu itu.

Maka dengan bertekad hanya untuk menggapai ridhloNya ,berinisiatif untuk mengawali membuka pengajian untuk anak anak disekitar perumahan, dari mulai mengenal huruf hijaiyah ,baca tulis alquran, tajwid ,hafalan juga ada plusnya yakni baca tulis dan berhitung,bahasa arab dan inggris untuk anak. Dengan berbekal pengalaman mengajar sebelumnya dan siiraman ilmu dari para asatidz /asatidzah yang saya kenal maka jalannya pendidikan untuk anak ini tidak banyak mengalami kendala.

Berawal dari anak para tetangga dan teman dekat akhirnya mulai banyak yang mengamanahkan anaknya untuk saya didik,sampai makin lama ada yang datang dari lokasinya agak jauh dari tempat tinggal kami. Karena banyaknya dan tidak tertangani dalam satu waktu maka dibagi menjadi 2 shift, yakni shift pagi dan sore.

Pada suatu hari, waktu itu jam masih menunjukkan sekitar pukul 09.30 pagi hari , tapi sinar matahari tertutup awan yang gelap, kemudian disusul hujan deras disertai angin kencang dan sesekali petir menyambar. Membuat kami para penghuni perumahan lebih banyak berdiam diri didalam rumah.

Waktu itu saya rasa nggak mungkin dalam keadaan cuaca seperti ini datang untuk ngaji kerumah, jadi biarlah pagi itu ana kanak libur saja, kasihan kalo harus datang dalam kondiri cuaca seperti itu.

“ Assalamualaikum “terdengar suara seorang nenek.

“Waalaikumussalam,” aku jawab segera dan bergegas untuk membukan pintu.

Ketika Pintu terbuka, Masya Alloh Ternyata seorang nenek berdiri didepan pintu, dia membawa payung sambil menggendong cucunya yang umurnya sekitar 3 tahun. Meski memakai payung sebagian pakaian bagian bawahnya agak basah karena hujan terlalu kencang dan payung digunakan untuk menutupi cucu kesayangannya jangan sampai terkena air hujan.

Nenek ini tinggal beda blok jaraknya agak jauh ,dia berjalan di tengah hujan deras sambil menggendong cucunya menuju rumahku .Maka dengan cepat cepat kupersilahkan masuk kedalam rumah.

“ Maaf umi, ini si kecil ( sambil menyebut nama cucunya) dari tadi merengek terus minta ngaji kesini,padahal sudah saya kasih tahu kalo hujan gini khan biasanya libur.” ungkap nenek tersebut .

“ Oh ngga papa kok nek, Udah sini dik kita ngaji ya..sama kakak Ica ya ( Anakku ) ” ajakku ke anak tersebut. Kemudian anak tersebut pun mulai belajar dengan wajah yang ceria meski cuaca saat itu agak dingin.

Bagaimana saya tidak akan terkesima, si kecil yang belum bisa bicara dengan sempurna alais terbata bata ,yang baru bisa baca a,bat.ta sa.ja … begitu kuat keinginannya untuk belajar,bahkan disaat hujan yang deras sekalipun. Dan nenek itu adalah seorang yang penyanyang,begitu kuat kasaih sayangnya dan turut membantu cucunya yang berkeinginan untuk belajar.

Maka saya yang biasa mengajari anak tersebut kali ini justru merasa tercambuk dan belajar pada anak tersebut, belajar untuk punya semangat menuntut ilmu yang kuat

Kata Sibuk kerja,capek, hujan deras,tak ada biaya adalah deretan kata yang telah dipersiapkan dibenak ini.Padahal hanyalah rekomendasi dari “kemalasan” .

Kita pantas malu pada si kecil ini.

Terlebih padaNYa sebab kita termasuk orang yang tidak mau diangkat derajatnya.Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang diberi ilmu (diangkat lagi) beberapa derajat”. (QS. Al Mujaadalah: 11).

Sebagimana para ulama rahimahumullahu memberikan nasihat kepada para penuntut ilmu untuk bersabar di atas kesulitan-kesulitan ilmu dan dalam memperolehnya, karena ini merupakan persyaratan dalam menempuh maksud dan tujuan yang mulia dan sangat mahal.

Maka apabila seseorang ingin mendapatkan apa yang diingnkan harus dengan bersungguh-sunggguh. Dan jika dalam keadaan malas ia tidak akan mendapatkannya. Maka ambillah kesempatan engkau akan menuju kepada sesuatu yang engkau angan-angankan tersebut.

Maka wajib bagi penuntut ilmu, untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu. Karena sesungguhnya perkara dalam menuntut ilmu seperti disebutkan oleh Ibnul Junaid, “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan dengan kejujurannya melainkan dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau ia tidak mendapatkan semuanya, paling tidak dia akan mendapatkan sebagiannya.”

Maka inilah ‘uluwul himmah (tingginya semangat) seseorang dalam menuntut ilmu, dia harus bersemangat terhadap waktu dan dia merasa benci untuk membuang waktunya dalam perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan kebulatan tekad. Kedua perkara ini akan menjadi usang jika seseorang tidak memanfaatkannya dan inilah pedang menghunus yang bisa membunuh seseorang.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi penguat azzam dalam diri saya dan siapa pun yang membacanya untuk terus berusaha belajar dan menuntut ilmu agama ini.

( Ummu Filzah Yayuk Winarsih Albatami )

Iklan