Dibanding dengan daerah lain ,UMK batam saat ini angkanya ketinggalan gerbong dari daerah lain.

So..ngapain masih kerja di Batam.

Anehnya masih tetep aja ada yang krasan tinggal di negeri ini.Banyak sekali alasannya tergantung dari pribadi masing-masing.UMK khan Upah Minimum Kota bukan upah “maximum”..Kebayang khan kalo itu upah maximum cuman segitu.. Karena upah minimum jadi suka suka boss mau ngasih gaji berapa saja.

Tak sedikit karyawan yang sama bossnya digaji lebih dari upah minimum, 2 juta ,4 juta dan sebagainya.Walaupun ada oknum yang menjadikan aturan UMK ini sebagai dalil untuk memberi upah bener “pass” kepada karyawannya. ( kita tidak lagi bahas pribadi seperti ini ) .

Lebih baik membicarakan sesuatu yang baik mudah-mudahan bisa menular kepada kita atau para atasan lain yang ngerti keadaan bawahannya.cleanroom.jpg

Pernah kata-kata bijak ini keluar dari seorang HR manager.Saya ingat betul.Suatu waktu saya menghadiri suatu event di salah satu hotel di batam dimana yang datang dari berbagai perusahaan. Nah, sewaktu break dan sholat saya berbarengan dengan seorang Bapak yang umurnya sekitar 38 tahun, ternyata beliau ini adalah seorang HR manager dari salah satu perusahaan.

 

Ngobrol ngobrol akhirnya sampai juga mengenai kebijakan mengenai kebijakan karyawan. Saya bisa bicara lepas wong beliau ( khan bukan HR manager saya hiks )
Nah ternyata beliau ini termasuk tidak setuju dengan beberapa rekannya yang berprofesi sama dalam urusan kebijakan perusahaan yang terlalu menekan ke karyawan. Terutama soal gaji. Tidak bisa diutarakan panjang lebar sebab sudah agak lama,jadi saya agak lupa. Tapi intinya masih ada ada HR yang “Care” terhadap masalah ini.

Jadi mari kita berbaik-baiklah dengan HR diperusahaan masing masing,sebab mereka juga manusia yang punya hati nurani. Selama kita bisa bekerja sama dengan baik, mungkin akan memberi kita yang baik juga. Jika ingin menuntut tuntut dengan cara yang baik,dan simpatik. Jangan sampai “liar” susah diatur, dan mencoreng nama baik management.Malah membuat mereka menjadi semakin antipati dan tertutup pintu hatinya .

Wong masih punya akal,dan ikhtiar dengan terus belajar untuk sumberdaya dan kemampuan meningkatkan diri, sehingga bisa bernegoisasi baik di Perusahaan sekarang ataupun negoisasi dengan perusahaan lain jika tak betah. ( gampang ngomongnya susah prakteknya nih )

Inilah pentingnya ngerti kaidah Menjauhi mudharat yang lebih besar “.

Perlu ke hati-hatian, bagaimana supaya dalam menuntut hal tetep mengikuti prosedur. Jangan sampai terlalu emosi,atau memang sengaja disulut oleh pihak tertentu supaya terjerumus dalam berbuat salah,dan yang terjadi adalah sebaliknya. Kesalahan ini dijadiakan senjata untuk mengaburkan tuntutan yang sebenarnya.

Ah..memang disini memang berkutat selembar “payslip” .

Tapi bukankah REZEKi yang telah ditetapkan olehNYA. Berapa kecilnya UMK ditetapkan tidak akan menghalangi turunnya rezeki pada kita.Berapun besarnya UMK ditetapkan kalo kalo rezeki sudah disempitkanNYA, ya kemanapun kita pergi serasa sempit dan seret.( halah anak TK juga tahu ..)

Atau jangan-jangan ini terjadi karena kita kurang “bersyukur”,lebih banyak bermaksiat dan suka menghambur-hamburkan harta. Berapa banyak orang bergaji UMK, uangnya dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, beli PDA,handphone tiap bulan ganti model, beli baju baru, berlebihan dalam hal makan,ke diskotik,tempat maksiat,pacaran dsb. ( halah..kok ujung-nya kesini lagi)

Padahal berapa sih yang kita infaq khan,.. berapa juga yang kita belanjakan untuk ketaatan dan makanan rohaninya,.. buku agama,VCD ceramah,pesantren sambil kerja, ngaji. Coba kita tanya diri sendiri ..?

Padahal disini semua pintu kebaikan begitu terbuka, tidak ada kata “udzur”.. dengan berkilah tidak ada pondok pesantren,tidak ada yang jual buku agama,tidak ada radio pengajian.

Hemm…merenung kok ngelantur gini ya…kalo ngga nyambung .Ya disambung sambungi sendiri deh ya..

Nambah : Bukan bahas antara setuju dan tidak setuju KHL,tapi menyoroti dari sudut lain.

Iklan